3 Alasan Mengapa Warnet Harus Tutup Usahanya

by - 22.42

Beberapa tahun yang lalu warnet menjadi spot nongkrong yang paling digemari mulai dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa. Anak-anak yang betah berlama-lamaan untuk sekadar bermain game online hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 3.000,- per jamnya. Berbeda dengan anak muda dan orang dewasa yang lebih memanfaatkan warnet sebagai tempat bersosialisasi melalui social media seperti chat facebook, twitter, dll. Namun semua itu seolah nyaris menjadi legenda bagi era teknologi  akhir-akhir ini. Riwayatnya yang kian tahun kian luput pandangan, meninggalkan pertanyaan tersendiri.” Mengapa banyak warnet yang menutup usahanya?” .



1. Rugi : Pemasukan Tidak Sebanding Pengeluaran

Semua orang tahu jika untuk memulai bisnis ini diperlukan modal yang sangat besar. Komputer, meja, kursi, kulkas, provider, etalase yang masing-masing lebih dari satu. Sekarang kita lihat untuk opersinya. Berapa tarif yang dipasang per jamnya? Rata-rata warnet hanya berani memasang tarif Rp 3.000,- hingga Rp 4.000,- per jamnya. Dari nominalnya saja dapat kita lihat jika keuntungan yang didapat nantinya tidak sebesar modal awalnya. Bahkan warnet besar sekalipun. Menjelang 5 tahun belakang ini yang menjadi saksi banyaknya warnet mengakhiri usahanya atau menggantinya dengan warung game online. 

2. Kemajuan Teknologi: Hotspot Gratis Bertebaran dan Gadget Canggih 

Beberapa tahun terakhir WiFi memang menjadi primadona tersendiri bagi seorang pengguna internet dalam berburu spot-spot atau tempat nongkrong asik. Mereka tidak lagi diberatkan dengan tarif berwaktu yang dipasang oleh pemilik layanan WiFi, pada café misalnya, hanya dengan secangkir kopi Anda dapat menikmati akses internet sepuas Anda. Berbeda dengan warnet yang seolah terus memburu penggunanya menggunakan waktu. Mudahnya ditemukan Hotspot area juga menjadi kendala tersendiri bagi para pemilik warung internet. Perusahaan gadget pun tidak mau kalah, mereka terus gencar berlomba-lomba mengeluarkan produk canggih yang bisa mengusahakan penggunanya terhubung dengan intenet khususnya WiFi, ataupun paket data yang dijual oleh provider komersil seperti INDOSAT, XL, TELKOMSEL, dll. Mereka bersaing demi mendapatkan banyak customer dalam penggunaan data internet yang mudah dan super cepat. Hasilnya, teknologi  yang menggunakan jaringan 3G dan 4G sudah mudah ditemukan di daerah-daerah pelosok. Itu berarti warnet tidak lagi begitu diperlukan selagi seseorang memiliki gadget jaringan 3G atau 4G.

3. Pelayanan: Internet Warnet Semakin Lambar

Entah mengapa kualitas kecepatan internet di warnet hanya memuaskan di awal launching-nya saja. Semakin hari semakin lambat. Bisa jadi karena server yang penuh, kinerja computer yang mulai menurun karena banyakya tangan yang memakai menjadikan komputer dan prosessor mudah rusak, dan juga karena si owner yang sengaja mengurangi server karena masalah biaya. Alasan itu yang seolah menjadi racun bagi para pengunjung warnet untuk beralih menggunakan internet pribadi. Selain itu pelayanan buruk yang ditawarkan dari pemilik warnet membuat pelanggan enggan mengunjungi warnet keesokan harinya.

You May Also Like

0 komentar